Saturday, March 24, 2012

Aku Hanya Menuntut Jawaban Untuk Ibu dan Calon Isteriku

Sederet pemikiranku melambungkan sejuta angan dan prasangka yang kian detik kian menjulang, membelah mega, meretas merah cakrawala, menghujam batasan-batasan keagamaan. Saat bis yang kutumpangi terus menukik, mendaki dan menyalib kendaraan lain sambil meniti pinggiran jurang yang kian menganga, kian buas, menuju persinggahan Landung Sari. Kukenang sejuta fakta pertentangan alam, bahwa gender merupakan hal mutlak dalam angan liberalis, dalam angan persamaan. Hati terus saja menggejolak menentang, namun otak terus saja mendobrak batasan hati.

Bagaikan langit yang perlahan menelan manisnya hijau pemandangan pegunungan, menyelimutinya dengan gelap mencekam. Ku kian meredup dalam panasnya hawa pengap perjalanan. Sejujurnya fikir terus saja bergerak, tak tahu kemana rimbanya, menggali dan mengkritis semua data berdasarkan nyatanya fakta. Kini kedudukan wanita dianggap sama dengan pria, namun nyatanya hal itu terus saja dalam dilema yang pencetusnya pun bungkam bahkan menjahit mulutnya ketika muncul hujaman penanya akan dampaknya. Bagaikan tersesat dalam hutan tak tentu arah ku tak mampu membedakan jalan yang benar, tabir agamaku pun mengisahkan bias persamaan itu, dan sesungguhnya Tuhan tidak memandang hambanya kecuali mereka yang berpakaian takwa. Selagi kuyakini itu, sederet iming-iming syurga dipenuhi dengan bidadari yang menyejukkan mata. Lalu bagaiamana dengan keadaan wanita?

Sedianya ku terus mempertimbangkan itu. Hari ini aku berada dalam titik yang sangat mengancam, ketika harus melangkah, hanya dua pilihan, jurang dan jurang. Tak melangkah pun menistakan diri dalam luka tak terjawab penyebabnya. Berkutat dalam persamaan, jelas nyatanya bahwa lelaki lebih kuat dalam berburu, menerkam, memberangus dan membawakan berton-ton harta kekayaan. Lelaki tak pernah merasakan kepenatan jiwa saat harus menjaga diri sambil menutup darah yang mengalir setiap bulannya. Bukan pula lelaki yang mampu menjaga orok dalam pelukan hangat dan kelembutan. Namun wanita hanya mampu mengurusi asap berbau rerempahan, mengendus hawa setiap kegerahan rasa kejantanan, menjadi wadah penampungan kegelisahan dan kegusaran birahi kehidupan. Akankah itu berubah ketika semua dituntut sama?

Aku kian hanyut dalam benakku, menggalau dalam kacaunya tikungan-tikungan menuju Landung Sari, meringsek dalam kemirisan nyata, bahwa wanita hanya menjadi alat kepuasan birahi pria saja, lalu apa yang didapat hati-hati lembut itu. Hanya syurga? Sedangkan pria mendapatkan ribuan bidadari di dalamnya, lalu pernahkah ada kecemburuan di dalamnya? Aku semakin pilu, mengapa begitu ... Apa kau mampu menjawabnya, namun perang Gender terbukti semakin menistakan wanita. Secara penentangnya tak mampu memberikan pembelaan yang adil ...

Tunggu dulu, adil? Ataukah aku yang tak pernah menelaahi kata adil? Hingga aku panik dalam hal ketidak adilan yang kan menjerat perasaanku, perasaan ibuku. Dan aku takut, ketika aku hanya menjadikan istriku sebagai jembatan menuju berjuta bidadari dalam syurga namun kutinggalkan ia terluka bersama kecemburuannya duduk di samping ibuku yang juga cemburu dengan ayahku.

No comments:

Post a Comment

Ada kata-kata yang bermakna komersial dan hanya sepa ... Maksudnya berarti spam. Jangan tinggalkan kata tanpa makna. Salam Sahabat.