Saturday, May 19, 2012

Rasa

Dua atau tiga hari ini, aku senantiasa digelisahkan dengan sesuatu yang sebelumnya kuanggap tidak begitu penting! Semakin kupaksa untuk tak menghiraukan, semaki hawa disekitarku mencekik hati, hingga resah rasa hati. Aku dalam asmara!

Sejak awal ku di Malang, kurasakan ada getaran cinta itu ketika melihatnya. Kukagumi setiap geriknya. Ya, dialah gadis ideal yang kuimpi-impikan. Anggun, manis, kokoh, dan berambisi! Selebihnya, dia begitu memikat dalam keyakinan, syariat adalah koridornya. Bukankah dia begitu sempurnanya!? Dapat kubayangkan, apa cita-cita yang ada di benaknya, secara dia memilih jurusan Pendidikan di Kampus yang sama denganku. Allah!

Namun, aku tiba-tiba terhenti dalam kekaguman ini. Ternyata, ambisi itulah pula yang membatasi aku dan dia. Aku sesosok ambisius pula. Sejuta impianku kutancapkan dalam sanubari ketika melangkah menuju kampus ini. Perasaanku ditentang habis-habisan oleh ambisi. "Jangan sekali-kali kau melenceng dari koridormu Zal!"

Benar, sementara aku memiliki mimpi yang telah kurancang bersama teman-temanku SMA sampai sepuluh tahun mendatang! Sekolah Islam Impian Internasional! Lalu urung rasa untuk mengejarnya, sembari pasrah. Jika ia jodohku, maka tak kemana. Koridornya pun akan mempertemukan kita.

Tapi, apakah ini bisa dikatakan kebetulan? Selanjutnya aku dan dia belajar dalam satu kelas yang sama di Pe-Ka-Pe-Be-A. Semakin kuperhatikan dia, semakin kucintai dia. Namun tetap di balik ambisi, hanya dapat menyaksikan saja tanpa ada keinginan meraihnya, sembari pasrah pada Tuhan. Aku terlalu kokoh untuk melepas ambisi itu, ditambah pula aku mengira ini bisa saja mengganggu suksesi ambisiku.

Beriringan dengan ini, seseorang sahabat yang kukagumi intelejensi, retorika dan kepemimpinannya ditakdirkan untuk hadir sebagai teman seduduk dalam Pe-Ka-Pe-Be-A. Ya, bertambah saja kelengkapan ini, aku dapat banyak belajar darinya, ini buat bekal mencapai semua ambisiku.

Hari-hari berlalu dalam semangat berkembang dan terus maju. Tak kukira ternya entah mengapa situasi ini membuatku memunafiki diri sendiri. Teman-teman sekelas sepakat tuk menyorak-sorai mendekatkan antara gadis yang kucintai itu dengan dia seoarang sahabat yang kukagumi ini. Oh Tuhan, dalam setiap sorak itu aku semakin terluka. Sementara aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku semakin khawatir, ini memberi sugesti pada mereka untuk benar-benar menumbuhkan rasa cinta.

Dan baru-baru ini kekhawatiranku terjawab. Haruskah kedua kalinya aku melepaskan gadis yang kucintai. Tidak, aku tidak ingin mengulangi luka yang sama. Tapi apakah harus kuungkapkan cinta ini lalu meretas koridorku! Bisa saja gadis itu kujadikan salah satu target ambisiku, lalu yang lain akan tersisihkan. Dan aku telah berkomitmen, jika kuunkapkan cinta ini, artinya aku siap berkeluarga.
Allah berikan aku langkah yang pas buatku ambil....

Sunday, April 1, 2012

Perlukah Diberi Judul?

Sebenarnya aku saat ini menggalau dalam senyuman. harusnya senyuman itu seperti apa hingga aku bear-benar mafhum dalam situasi hati kali ini. Aku selalu menanamkan dalam diriku untuk menebar senyuman yang indah dalam hati-hati setiap orang. Namun, hatiku kian membusuk sembari senyuman tetap merekah. Apa yang terjadi dalam kenyatan ini? Kian sulit kubedakan mana yang Ilahi dan yang Syaitani. Saat tersenyum bangga dan menyapa, kurasa ini baik-baik saja, selalu kupertahankan hingga langkahku tak lagi terbuka. Betapa tidak? Sementara senyuman itu didomplengi rasa ria dan sombong diri, hingga kian lupa akan Asmanya.

Ilahi, satu lagi yang kubingungkan, bagaiamana kenyataan yang sebearnya? Sesaat ketika aku dalam renungan kegalauanku, kurasakan hati ini roja' pada-Mu, dan kian mendekat pada-Mu. Hingga muncul kata hati, haruskah aku dalam keadaan seperti ini terus. Menunduk sendu bersama sepoy angin yang kian menghembuskan mendayu. Ah, lalu apa maksud optimisme sebenarnya, sungguhpun aku terlalu awam dalam memahaminya. Kucoba tersenyum, ternyata membuatku lupa pada-Mu, terus bersedih pun ada ulama yang berkata LA TAHZAN.


Saturday, March 24, 2012

Aku Hanya Menuntut Jawaban Untuk Ibu dan Calon Isteriku

Sederet pemikiranku melambungkan sejuta angan dan prasangka yang kian detik kian menjulang, membelah mega, meretas merah cakrawala, menghujam batasan-batasan keagamaan. Saat bis yang kutumpangi terus menukik, mendaki dan menyalib kendaraan lain sambil meniti pinggiran jurang yang kian menganga, kian buas, menuju persinggahan Landung Sari. Kukenang sejuta fakta pertentangan alam, bahwa gender merupakan hal mutlak dalam angan liberalis, dalam angan persamaan. Hati terus saja menggejolak menentang, namun otak terus saja mendobrak batasan hati.

Bagaikan langit yang perlahan menelan manisnya hijau pemandangan pegunungan, menyelimutinya dengan gelap mencekam. Ku kian meredup dalam panasnya hawa pengap perjalanan. Sejujurnya fikir terus saja bergerak, tak tahu kemana rimbanya, menggali dan mengkritis semua data berdasarkan nyatanya fakta. Kini kedudukan wanita dianggap sama dengan pria, namun nyatanya hal itu terus saja dalam dilema yang pencetusnya pun bungkam bahkan menjahit mulutnya ketika muncul hujaman penanya akan dampaknya. Bagaikan tersesat dalam hutan tak tentu arah ku tak mampu membedakan jalan yang benar, tabir agamaku pun mengisahkan bias persamaan itu, dan sesungguhnya Tuhan tidak memandang hambanya kecuali mereka yang berpakaian takwa. Selagi kuyakini itu, sederet iming-iming syurga dipenuhi dengan bidadari yang menyejukkan mata. Lalu bagaiamana dengan keadaan wanita?

Sedianya ku terus mempertimbangkan itu. Hari ini aku berada dalam titik yang sangat mengancam, ketika harus melangkah, hanya dua pilihan, jurang dan jurang. Tak melangkah pun menistakan diri dalam luka tak terjawab penyebabnya. Berkutat dalam persamaan, jelas nyatanya bahwa lelaki lebih kuat dalam berburu, menerkam, memberangus dan membawakan berton-ton harta kekayaan. Lelaki tak pernah merasakan kepenatan jiwa saat harus menjaga diri sambil menutup darah yang mengalir setiap bulannya. Bukan pula lelaki yang mampu menjaga orok dalam pelukan hangat dan kelembutan. Namun wanita hanya mampu mengurusi asap berbau rerempahan, mengendus hawa setiap kegerahan rasa kejantanan, menjadi wadah penampungan kegelisahan dan kegusaran birahi kehidupan. Akankah itu berubah ketika semua dituntut sama?

Aku kian hanyut dalam benakku, menggalau dalam kacaunya tikungan-tikungan menuju Landung Sari, meringsek dalam kemirisan nyata, bahwa wanita hanya menjadi alat kepuasan birahi pria saja, lalu apa yang didapat hati-hati lembut itu. Hanya syurga? Sedangkan pria mendapatkan ribuan bidadari di dalamnya, lalu pernahkah ada kecemburuan di dalamnya? Aku semakin pilu, mengapa begitu ... Apa kau mampu menjawabnya, namun perang Gender terbukti semakin menistakan wanita. Secara penentangnya tak mampu memberikan pembelaan yang adil ...

Tunggu dulu, adil? Ataukah aku yang tak pernah menelaahi kata adil? Hingga aku panik dalam hal ketidak adilan yang kan menjerat perasaanku, perasaan ibuku. Dan aku takut, ketika aku hanya menjadikan istriku sebagai jembatan menuju berjuta bidadari dalam syurga namun kutinggalkan ia terluka bersama kecemburuannya duduk di samping ibuku yang juga cemburu dengan ayahku.

Saturday, March 3, 2012

Tips Mengendalikan Hawa Nafsu

Buat anjingmu lapar maka ia kan patuh padamu

[Makna Sederet Kata]
Indah dan memang sedikit unik. Perkataan pepatah Arab ini sangat mengena dalam pemikiran saya terkait dengan pemaknaan ANJING yang dapat saja kita anggap sebagai HAWA NAFSU. Dan logika maknanya adalah ketika kita membuat hawa nafsu itu lemah dan menggelepar, maka kita dengan gampangnya menggiring hawa nafsu kita untuk menghindarkan kita dari perbuatan maksiat.

Makna Sederet Kata

Dalam kehidupan ini banyak sekali kata-kata yang kita dengar sama. Namun ternyata memiliki makna berbeda. Ambil saja kata GEJE yang sering digunakan dalam pergaulan anak muda. Ini bermakna mengejek atau merendahkan dan efeknya sangat mengena di hati yang terejek. Sedangkan jika kita berbicara dengan NGGAK JELAS, ada kecenderungan makna yang lebih halus dibandingkan GEJE.

Dalam permisalan lain. Kata BODOH mewakili makian bahwa orang yang dimaki tidak maksimal otaknya digunakan dalam berfikir namun efeknya cenderung membuat yang dimaki merasa sangat direndahkan. Berbeda dengan kata yang lebih halus NGGAK PINTAR. Sederet kata yang bararti sama namun makna dan penekanannya berbeda. Efeknya pun berbeda.

Tapi, di setiap lingkungan, terjadi perubahan makna dan konotasi yang sering tidak sama dengan lingkungan lainnya. Seperti di Surabaya, sapaan DANCUK merupakan kata yang dianggap biasa dalam sapaan pergaulan. Berbeda kalau sudah di daerah Malang, atau lebih ke Solo yang cenderung tutur katanya lembut, kata DANCUK merupakan kata makian yang tidak baik diucapkan.